Makna Isi Kandungan Al-Qur'an Surah 55: Ar-Rahman

Makna Isi Kandungan Surah Ar-Rahman

#1. Bilik Makna Ar-Rahman yang Pertama

Bilik Makna Ar-Rahman yang Pertama
Bilik Makna Ar-Rahman yang Pertama

Surah ini dibuka dengan sangat indah dan ritme yang naik, senandung ayat pertama yang sangat lugas membuat kita terhanyut, tersentak dan bergemuruh.

“(Tuhan) Yang Maha Pemurah”, maka semua indera tertuju pada lafadz ayat ini, jelas dan gamblang tentang rahmat Allah, kemudian hening menanti kelanjutannya.

Ayat berikutnya kemudian menjelaskan Allah SWT telah memberikan rahmatnya kepada kita, dimulai denga Al Quran yang telah Allah turunkan.

Ketahuilah bahwa inilah rahmat terbesar yang membuat kita memahami dimensi kehidupan, menerangkan yg kabut, dan selalu memberikan penjelasan ihwal diri kita yang sebenarnya sehingga terwujudlah konsep manusia di alam nyata ini.

****

Kemudian dilanjutkan ayat 3 dan 4 tentang manusia, tentang diri kita, yang diciptakan sebagai bentuk kasih sayang Allah, kemudian Allah mengajarkan kita pandai bicara.

Kita harus menyadari dalam-dalam bahwa suara yang kita keluarkan melalui proses yang panjang, dan melewati beberapa bagian tubuh penting, lidah, bibir, tenggorokan, saluran udara, paru-paru, dll.

Lalu bagaimana kita berbicara?

Allah memudahkan kita untuk bisa memainkan intonasi suara kita, mengatur cepat lambat suara kita, kasar atau lembut, hingga karakter suara yang berbeda-beda.

Lalu dengan ini kita berargumen, menyampaikan gagasan, dan melontarkan perasaan.

Mari kita merenung bersama bagian mana dalam alam semesta ini yg bisa kendalikan atau ciptakan, bukankah ini semua karena Allah?

#2. Bilik Makna yang Kedua

Bilik Makna Isi Kandungan Ar Rahman
Bilik Makna Isi Kandungan Ar Rahman

(Matahari, bulan, pepohonan, tumbuhan, langit, buah-buahan, biji-bijian, bunga-bunga, dan kurma)

Pada ayat ke 5, Allah menegaskan penciptaan matahari dan bulan yg beredar sesuai perhitungannya.

Jika kita melihat segala fenomena alam semesta ini, maka kita akan menemukan korelasi yang jelas dan mengejutkan, betapa matahari telah diprogram sedemikian hingga, temperatur dan jaraknya pun telah sesuai dengan kebutuhan hidup kita.

Hingga kita bisa merasakan suhu, waktu, malam dan siang hari.

Begitu juga dengan bulan, jaraknya telah sesuai dengan ukurannya, sehingga pasang surut air laut, pergerakan pulau-pulau juga tepat sesuai kebutuhan hidup makhluk-Nya di bumi.

***

Ayat berikutnya, Allah kemudian masuk pada penciptaan di dalam bumi, yaitu tumbuh-tumbuhan dan pepohonan yang tunduk taat kepada Allah.

Pernahkah kita bertanya mengapa tumbuh-tumbuhan atau pepohonan yang sekalipun diberikan perlakuan yang sama belum tentu ukuran dan waktu tumbuhnya sama?

Kemudian kita perhatikan siapakah yang membuat keduanya tumbuh?

Mereka semua tunduk pada Allah, dan bahkan dalam surah lain dijelaskan bahwa alam semesta senantiasa berdzikir dan tunduk pada Allah.

***

Ayat 7-9 Allah kembali menegaskan perihal langit dan segala yang ada disana, bahwa Allah telah tinggikan dan menempatkan pada neraca keseimbangan.

Bisakah kita bayangkan jika matahari ini selangkah lebih dekat kepada bumi, atau selangkah mundur kepada bumi? Menjadi uap atau beku dan tentu tanpa kehidupan.

Atau kemudian bulan didekatkan atau dijauhkan bagaimana pasang surut air laut akan berantakan, kemudian jika bintang-bintang didekatkan apa yang akan terjadi pada bumi.

Sungguh Allah meletakkan neraca keseimbangan ini dengah kokoh, mengakar, dan stabil agar tidak mengikuti kebodohan, ambisi, dan hawa nafsu.

Kalimat ayat ini sangat inspiratif.

Maka, tugas kita berikutnya adalah menjaga tatanan neraca keseimbangan ini agar tidak bergeser barang sedikitpun.

***

Kemudian ayat 10-12 Allah kembali menceritakan bumi, tentang buah-buahan, biji-bijian, bunga-bunga, dan kurma-kurma.

Inilah rahmat Allah yang sering bahkan terlampau sering kita nikmati.

Sehingga tak jarang kita menganggap ini hal yang biasa.

Tidakkah kita merenung dan menjalankan nalar kita bahwa kemudahan demi kemudahan sudah selalu kita rasa, menikmati rasa buah dan khususnya kurma, menumbuhkan biji-bijian, dan memadangi indah bunga-bunga.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” ayat 13 menggoncang kita, menyudutkan kita, bahkan menampar kita keras-keras bahwa ayat-ayat faktual diatas tidak mampu manusia dan jin dustakan, Ialah Allah SWT.

#3. Bilik Makna yang Ketiga

(Manusia dan Jin)

Pada ayat-ayat ini Allah mengungkapkan betapa pengasihnya Allah sehingga diciptakanlah Manusia dan Jin.

Penciptaan ini diluar pemikiran manusia, tidak akan terjangkau oleh akal, dan dimensi berpikir manusia dan jin.

Karena Allah dalam ayat-ayat ini sedang bercerita tentang jarak antara keberadaan dan ketiadaan, maka nikmat ini melampaui batas pemahaman.

***

Ayat 14 Allah SWT menerangkan bahwa manusia diciptakan dari tanah atau lumpur yang telah mengering.

Hal ini menegaskan bahwa unsur manusia dan bumi adalah sama yaitu tanah.

Ilmu ilmiahpun mengungkapkan hal yang sama tentang keberadaan unsur yg sama pada keduanya walaupun presentasenya mungkin berbeda, tapi yang jelas penciptaan manusia adalah nikmat yang tidak dapat terjangkau akal.

***

Begitupula dengan Jin pada ayat 15 bahwa penciptaanya dari nyala api, dan inipun tidak dapat manusia jangkau.

Kita hanya tau bahwa jin hidup bersama kita, namun kita tidak tau bagaimana hidupnya, yang kita tau bahwa Jin diberikan perintah pula dalam Al Quran sebagaimana Surah Al Ahqaaf ayat 29 menerangkat dg tafsirnya.

Kedua ayat ini menyorot, dan menyapa langsung manusia dan jin tentang nikmat keberadaannya yg tak dapat terjangkau oleh akal, sehingga dengan nikmat keberadaanya ia bisa merasakan nikmat-nikmat Allah yang lainnya.

**

Ayat 16 kemudian kembali menpertanyakan kepada kita dengan kalimat faktual, tajam, tapi halus. “Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

#4. Bilik Makna yang Keempat

Bilik Makna Isi Seluruh Kandungan Surah Ar-Rahman
Bilik Makna Isi Seluruh Kandungan Surah Ar-Rahman

(Dua Tempat Terbit dan Terbenam, Laut, mutiara, marjan, dan bahtera)

Ayat ke 17 mengisyaratkan kita untuk kembali melihat langit dan menperhatikan tempat terbit dan terbenam matahari, antara timur dan barat semua dalam kekuasaan Allah.

Maka perhatikan kemanapun kita melemparkan pandangan disanalah Allah, rububiah-Nya, kehendak-Nya, hidayah-Nya, Cahaya-Nya, dan kekuasaan-Nya.

Ayat berikutnya kemudian kembali menanyakan perihal faktual tanda-tanda kekuasaan dan nikmat Allah kepada makhluknya “maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”.

Dari melihat langit Allah kemudian kembali menjelaskan bumi dan isinya, termasuk air didalamnya.

***

Ayat 19-20 Allah menegaskan tentang air yang luar biasa menjaga keseimbangan bumi, membuat bumi tetap berada pada kadar seharusnya, walaupun manusia terus merusaknya.

Kita melihat fenomena air laut kemudian menguap dan menjadi air tawar dari hujan, sungguh telah Allah batasi sehingga tak bisa tersentuh oleh kehendak manusia yang merusak.

Sekali lagi Allah menegaskan nikmatnya dengan pertanyaan yang sama di ayat berikutnya “maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”.

Masih tentang air, Allah kemudian menjelaskan nikmatnya yang lain di lautan, tentang mutiara dan marjan yang indah dan sangat menankjubkan, kita akan semakin terinspirasi kalau kita pelajari bagaiman mutiara dan marjan terbentuk dalam lautan.

Dilanjutkan lagi dengan ayat pertanyaan yang sama tentang kenikmatan.

****

Kemudian pada ayat 24 Allah ingin kita menyadari bahwa bahtera yang berlayar di lautan itu adalah milik Allah SWT, dan karena-Nya pula kita melihatnya berlayar untuk memudahkan urusan manusia dalam hal transportasi, kesejahteraan, dll.

Maka begitu besarnya kekuasaan dan nikmat Allah sehingga jika pikir satu-satu maka tak sanggup akal kita berbicara.

****

Sehingga pada ayat 25 Allah perjelas lagi dengan pertanyaan yg mengoncang hati kita “maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

(Selepas membaca Tafsir Fi Zhilalil Quran, QS Ar Rahman:17-25)

#5. Bilik Makna yang Kelima

(Kematian, Kekekalan, dan Permintaan)

Kita sudah merasakan begitu banyak nikmat yang kita bisa raba dengan panca indera, dan kita rasa dengan jiwa.

Kemudian terbukalah ihwal kefanaan ini semua ketika Allah membukanya pada ayat 26.

Pada ayat ini kita akan merasakan keheningan, kaku, dan terdiam memucat, bahwa semua ini, meliputi gerakan dan seluruh cakrawala langit dan bumi adalah fana dan segalanya akan binasa.

Kemudian kita dihadapkan dengan ungkapan yang tak dapat kita pikirkan dan gambarkan walau sejenak, tentang kekekalan, bahwa hanya Allah dengan segala kebesaran dan kemulian-Nya yang Baqaa.

Ungkapan tentang dinamika kehidupan dan semesta kemudian luluh atas hakikat kebaqaan Allah yang hanya dapat dipahami melalui nash Al Quran.

Hal ini benar-benar merupakan kenikmatan, bahkan merupakan pokoknya, karena Allah menempatkan kestabilan sunnahnya disini, Allah yang menghisab dan membalas kemudian.

Akhirnya ditutup bagian ini dengan ayat yang sama dengan sebelum-sebelumnya “maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”.

****

Ayat 29 kemudian menjelaskan bahwa segalanya meminta kepada Allah, ini menunjukkan segalanya bermuara pada Allah Yang Maha Abadi, karena yang lain adalah fana.

Maka kau tidak bisa meminta kepada selainnya, bayangkan jika si fana meminta pada yang fana, perhatikan bahwa si fana hanya bisa meminta kepada Sang Baqaa.

Kemudian dilanjutkan bahwa Ia Ar-Rahman setiap waktu dalam kesibukan, kamu akan melihat dalam diri manusia misalnya, jika kamu perhatikan proses biokimia didalamnya, tidak satupun reaksi berjalan tanpa Allah ketahui dan Allah atur, sehingga manusia bisa merasakan kenyang, manis, nafas, dan lainnya.

Kemudian perhatikan alam bahwa tak ada satu bijipun yang tumbuh tanpa Allah atur, ikan di kedalaman samudera, segalanya dalam pantauan dan aturan Allah.

Karena itu ayat 30 kembali menyapa lembut kita “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”.

(Selepas membaca Tafsir Fi Zhilalil Quran, QS Ar Rahman:26-30)

#6. Bilik Makna yang Keenam

(Kepada Jin dan Manusia : Allah memperhatikan, menantang, dan mengancam)

Setelah kita memahami tentang kefanaan diri kita dan alam semesta, serta kita juga paham bahwa hanya Allah yang baqaa.

Selanjutnya Allah menunjukkan proses setelahnya, proses si fana oleh Allah ya baqaa.

Ayat 31 sungguh sangat menguncangkan, bagaimana tidak ketika Allah mengatakan langsung bahwa Ia memperhatikan sepenuhnya manusia dan jin, diantara semua makhluknya manusia dan jin Allah perhatikan langsung dan menangani pembalasan atas apa yang dilakukan oleh keduanya(manusia dan jin).

Dalam suasana terawasi Allah menanyakan kembali “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”.

Rasa mengguncang rasanya belum kuat, sehingga kembali Allah guncang hati kita pada ayat 33 Allah menantang jin dan manusia utk menembus penjuru langit, sungguh hal yang mustahil tanpa kekuatan Allah SWT Pemilik segala kekuatan.

Kemudian kembali kalimat yang sama dipertanyakan pada kita agar kita sadar dengan sesadarnya.

Pada ayat 35 Allah menggambarkan kengerian dan ancaman bagi jin dan manusia jika mendurhakai Allah, sungguh berkali-kalipun tak mampu kita membaca dengan akal, maka cobalah rasakan dengan hati bagaimana bergoncangnya dan perasaan takutnya.

Ditutup kemudian pada ayat 36 untuk memastikan benar2 kita sadari “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”.

(Selepas membaca Tafsir Fi Zhilalil Quran, QS Ar Rahman:31-36)

#7. Bilik Makna yang Ketujuh

(Kiamat, Hisab, dan Neraka)

Mulai ayat ini kita akan digiring pada kedaan dimana kefanaan yg tampak ini akan hancur luluh lantah, pemadangan hisab atas setiap nafas yg kita lalui, dan balasan kepada hamba yang fanaa ini.

Dapatkah kita membayangkan langit terbelah dan menjadi merah seperti kilapan minyak?

****

Maka ayat 37 menjelaskan bahwa situasi ini akan terjadi dan terguncanglah jagad raya, mata akan terbelalak ketakutan yang luar biasa, bintang2 berjatuhan, dan kemudian semua kefanaan lenyap tak tersisa.

Pertanyaan yang sama kembali menghampiri kita “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”.

****

Proses berikutnya dihadirkan pada kita proses pertanggungjawaban, ayat 39 berbunyi “Pada waktu itu manusia dan jin tdk ditanya tentang dosanya”.

Situasi ini menggambarkan betapa tak ada satu patah katapun yang terucap, semuanya telah jelas terlihat, wajah yang menghitam atau wajah yang putih berseri yang tampak, panas yang membara ataukah naungan yang dirasakan, tanpa ditanya semua akan tergambar jelas, sehingga tidak ada pendustaan lagi yg bisa dilakukan.

*****

Kita kemudian ditanya lagi atas nikmatnya yg kita dustakan, dalam keadaan takut kita membaca ayat ini kemudian Allah kembali hadirkan dalam ayat 41 gambaran balasan bagi orang yang berdosa, “…lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka”.

Dapatkah kita bayangkan sakit yang teramat dan hinaan yang mendalam ketika kaki disatukan dengan wajah kemudian dilempar kedalam neraka yang menyala.

****

Ayat 43 berbunyi “Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa”, Jahannam ini tersaji dengan jelas.

Dan kemudian Allah lanjutkan gambarannya pada ayat 44 bahwa mereka orang berdosa kemudian berkeliling diantara air yang panas mendidih memuncak, perhatikan mereka berkeliling, dapatkah kita bayangkan?

Allah hadirkan gambaran ini agar kita tidak lupa akan nikmatnya, tidak lupa bahwa Allah telah hamparkan nikmat yang teramat sangat, masihkah kita mendustakan-Nya? “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” ayat 45 menundukkan keangkuhan kita hingga luluh hati ini dirasa.

(Selepas membaca Tafsir Fi Zhilalil Quran, QS Ar Rahman:37-45)

#8. Bilik Makna yang Kedelapan

(Surga, mata air mengalir, buah-buahan dan bidadari)

Setelah kita melihat sekelumit paparan tentang balasan bagi orang-orang yang mendustai dan mendurhakai Allah atas segala nikmatnya, selanjutnya dari ayat ini sampai akhir kita akan diajak melihat banyaknya paparan tentang segala kenikmatan balasan bagi orang-orang yang bertaqwa, ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah lebih besar daripada murkanya.

****

Ayat 46 membuka cerita tentang nikmat surga, bahwa bahagialah orang yang takut pada Allah akan ada 2 surga, 2 surga yang dimaksud adalah 2 surga yang telah dikenal namanya, disebut khusus karena keberadaan martabatnya.

Lebih jelas dalam surah Al Waaqi’ah ditegaskan 2 kelompok penghuni surga. Terlepas dari itu mari kita lihat bagaimana gambaran surga pertama yang dimaksud ini.

****

Ayat 48 bercerita tentang pohon-pohonan dan buah-buahan di surga ini, sangat indah tentunya.

Ada dua buah mata air yang mengalir sehingga melimpah dan mudah nikmat air didapatkan.

Ada segala macam buah-buahan, beragam, melimpah dan dapat dipetik dengan dekat, tidak perlu susah payah sehingga tak mengurangi kenikmatan sedikitpun.

****

Pada ayat 56 kemudian diceritakan tentang adanya bidadari yang perasaan dan pandanganya meneduhkan, tidak pernah melirik pada manusia ataupun jin, dan tak juga tersentuh.

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan” ayat 58 menegaskan betapa permatanya para bidadari surga.

Semua ini diberikan pada orang-orang yang berbuat kebaikan sebagaimana ayat 60 terangkan.

Setiap ayat 46-60 diselingi ayat yang sama, untuk memastikan dan menanyakan pada kita tentang nikmat mana yang didustakan, hingga tak ada sedikitpun keraguan pada kita bahwa Allah.

Kemudian ayat 61 kembali dihadirkan “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

(Selepas membaca Tafsir Fi Zhilalil Quran, QS Ar Rahman:46-61)

#9. Bilik Makna Kesembilan

(Surga, mata air memancar, buah-buahan dan bidadari)

Setelah panorama Surga bagian pertama ditunjukkan, kemudian Allah menunjukkan panorama surga yang satunya lagi dengan menyifati surga ini lebih rendah daripada sebelumnya.

Ayat 62 yang menegaskan akan adanya surga ini, warnanya disebutkan hijau tua pada ayat 64, dari sini kita ditunjukkan bahwa begitu nyamannya surga ini.

Kemudian ada dua mata air yang memancar, ada juga buah-buahan, kurma serta delima disebut secara khusus di surga ini.

Di dalam surga ini juga ada bidadari sebagaimana ayat 70 “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik”.

Diberitahukan juga bahwa bidadari ini jelita, putih bersih dipingit dalam rumah, artinya bidadari-bidadari ini teriaga.

****

Diperjelas pada ayat 74 bahwa tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum penghuni surga yang akan menjadi suami mereka nanti.

Disini bersama bertelakan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani yang indah.

Kemudian ayat 77 sebagaimana ayat-ayat yang juga menyelingi ayat-ayat sebelumnya kembali menyakan perihal nikmat “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Surah Ar-Rahman ini kemudian di tutup pada ayat 78 dengan sangat sesuai, yang menunjukkan kebesaran, karunia, kenikmatan, dan kasih sayangnya kepada makhluknya terutama manusia, “Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia”

(Selepas membaca Tafsir Fi Zhilalil Quran, QS Ar Rahman: 62-78)

Maha Benar Allah dengan Segala Firman-Nya

Sungguh membaca tafsir ini membuat jiwa kita terpenuhi dengan nutrisi-nutrisi iman yang membuat kita semakin yakin Allah mengasihi kita semua.

Sehingga kemudian tak pantas kita mendurhakai Allah, apalagi melawan atas karunia yang telah diberikan.

Kasih sayang Allah sangat besar, sehingga dalam kealpaan kitapun Allah masih memberikan nikmat-nikmatnya kepada kita, lalu bagian mana yg masih membuat kita mengeluh dan tak bersyukur.

Pengulangan2 ayat2 pada surah Ar Rahman ini untuk menegur dan mengingatkan kita secara halus bahwa mulai dari penciptaan, bumi, langit, air, akhirat dan segalanya adalah nikmat Allah yang tak bisa kita dustai, sehingga sekali lagi nikmat mana yang didustakan?.

Surah Ar Rahman ini juga Surah yang romantis, dengan pembeberan nikmat ini dengan bahasa sastra tertinggi menunjukkan kalau Allah memang Romantis.

Makanya surah ini juga sering menjadi hadiah dari suami kepada isterinya ketika pernikahan dalam Islam.

*Demikian Bilik Makna 1-9 semoga menjadi pelajaran dan perbaikan bagi saya pribadi dan yang membaca. Mohon doa juga untuk Penulis Tafsir ini As-Syahid Sayyid Quthb, dan ane juga ya

Referensi: Faisal Rahman

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *