Keunikan Tarian Randai dari Kebudayaan Minangkabau, Sumatera Barat

Tari Randai

Tari Randai ini, sebenarnya sangat cocok disebut sebagai pertunjukan teater rakyat daripada sebagai seni tarian loh!

Hal ini dikarenakan pada keunikan yang ditampilkan dalam pertunjukkannya berupa perpaduan berbagai cabang seni mulai dari:

  • Seni Sastra atau cerita,
  • Seni dendang,
  • Seni gerak, dan juga
  • Seni drama atau akting.

Lalu, lantas apa fungsinya dari Tarian ini bagi masyarakat Minangkabau?

Tari Randai biasanya ditarikan dalam berbagai upacara adat seperti:

  • Pernikahan,
  • Khitanan,
  • Akikah, maupun
  • Ritual pewarisan gelar, dan
  • Penobatan adat.

Tarian ini juga ditampilkan dalam beberapa acara formal loh!

Seperti kegiatan kepemudaan, dan kegiatan lain dalam Nagari Minangkabau.

Kostum dan Properti

Warisan Budaya Tak Benda dari Sumatera Barat (Tari Randai)

1. Pakaian Gunting Cino

Pakaian gunting cino adalah kostum yang dikenakan oleh penari laki-laki tari randai.

Baju ini berbentuk serupa baju koko tetapi tidak berkerah dan juga tidak bersaku.

Lengannya panjang dan agak ‘gombyong’ atau longgar.

2. Celana Galembong

Celana galembong atau celana galambuak merupakan celana khas penari laki-laki dalam tari randai.

Potongannya pun longgar atau lebar sehingga mendukung musik internal dalam tari randai.

3. Sandang

Sandang adalah seutas kain panjang berwarna merah yang diikatkan pada pinggang penari laki-laki dalam tari randai.

Sandang ini merupakan filosofi bahwa laki-laki Minangkabau tunduk dalam hukum adat yang berlaku.

4. Kain Kodek

Bawahan baju anak daro digunakan kain kodek.

Kain kodek ini digunakan seperti memakai sarung sehingga potongannya lurus ke bawah.

Bahan yang dipakai untuk kodek umumnya adalah kain songket Minang atau juga bisa menggunakan bahan yang sama dengan bahan baju anak daro.

5. Suntiang

Suntiang merupakan mahkota atau hiasan kepala yang dikenakan oleh penari randai perempuan.

Suntiang biasanya didominasi dengan warna emas ataupun perak.

Suntiang yang dianggap ‘berat’ ini sebagai simbolisasi bahwa kehidupan yang ditanggung sebagai seorang perempuan tidak mudah.

6. Cawek Songket

Cawek songket adalah kain yang dipakai penari laki-laki di luar celananya.

Pemakaian cawek songket hanya sebatas lutut saja.

Cawek songket ini memiliki makna bahwa laki-laki harus memiliki kecakapan dan kelembutan dalam perannya sebagai pemimpin.

7. Deta

Deta atau destar merupakan penutup kepala yang dikenakan oleh laki-laki Minangkabau.

Deta terbuat dari kain berbentuk persegi yang dilipat beberapa kali menyisakan bentuk segitiga kemudian dililitkan pada kepala.

Lipatan pada deta ini memiliki makna laki-laki Minangkabau selalu mempertimbangkan baik dan buruknya keputusan yang akan diambil.

Sejarah

a.) Singkat

Asal usul dan pencipta kesenian randai yang berkembang di provinsi Sumatera Barat ini belum diketahui secara pasti sampai saat ini.

Beberapa sumber menyebutkan randai berasal dari istilah handai yang mendapat awalan ba menjadi barandai, dan mengacu pada arti obrolan hangat dalam suasan santai dan intim.

b.) Lengkap

Hal ini berdasarkan cerita turun temurun dari masyarakat yang mengatakan,

Bahwa Randai tumbuh dari permainan komunal para pemuda yang dimainkan pada malam hari di halaman surau atau sasaran silek.

Salah satunya adalah sasaran silek atau perguruan silat di daerah pesisir Padang dan Pariangan, Tanah datar, Sumbar.

Para pemuda ini…

Sebenarnya mereka sedang mengasah kemampuan mereka dalam bela diri…

Dengan menggunakan gerakan-gerakan silat,

Disana ketika zaman dulu, silat ini sebagai salah satu skill wajib yang sangat diperlukan oleh laki-laki Minangkabau di masa lalu.

Latihan dilakukan dalam formasi legaran yang memiliki pengertian melingkar seperti rantai sebagai simbolisasi kekompakan pemuda Minangkabau.

Kata ‘rantai’ dalam lingkaran ini juga dianggap sebagai asal mula istilah randai dalam tari randai yang berkembang saat ini.

Di tengah legaran pemuda tersebut, berdirilah seorang pangkatuo atau pelatih silat yang menyampaikan pesan melalui syair, dendang, dan gurindam.

Pangkatuo ini kemudian diperankan oleh seorang panggoreh dalam formasi tari randai sekarang.

Para pemuda ini mengenakan celana besar yang disebut celana galembong sebagai salah satu ciri khas kostum perguruan silat.

Dimana celana ini kemudian memberikan efek suara seperti debur ombak ketika melakukan gerakan menepuk celana secara serentak.

Penggunaan celana ini pun masih dipertahankan sebagai identitas randai di jaman sekarang.

Ringkasan

Randai tidak hanya memuat pesan-pesan moral dan pendidikan.

Tapi, juga memiliki unsur historis.

Karena cerita yang dimainkan sebagain besar adalah cerita klasik Minangkabau yang mengandung nilai sejarah.

Cerita randai biasanya diambil dari kenyataan hidup yang ada di tengah masyarakat.

Fungsi randai sendiri adalah sebagai seni pertunjukan hiburan yang didalamnya juga disampaikan pesan dan nasihat.

Semua gerakan randai dituntun oleh aba-aba salah seorang di antaranya, yang disebut dengan janang.

Randai ini bertujuan untuk menghibur masyarakat yang biasanya diadakan pada saat pesta rakyat atau pada hari raya Idul Fitri.

Kesenian ini, yang dimainkan oleh beberapa orang dalam artian berkelompok atau beregu.

Dimana dalam randai ini ada cerita yang dibawakan, seperti cerita:

  • Cindua Mato,
  • Malin Deman,
  • Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya

Referensi: