Propolis Lebah Madu

Propolis Dipercaya Sebagai Obat Alami untuk Melindungi Tubuh

Last Updated on

Propolis atau lem lebah adalah suatu zat yang dihasilkan oleh lebah madu.

Bahan untuk propolis dikumpulkan oleh lebah dari pucuk daun-daun yang muda, kemudian dicampur dengan air liurnya.

Propolis ini dipakai sebagai perekat sarang serta melindungi larva lebah dari serangan bakteri.

Propolis sudah digunakan sejak lama untuk obat maupun kosmetik.

Hipocrates (460-377 SM) merupakan Bapak Kedokteran Modern yang merekomendasikan propolis sebagai obat yang dapat menyembuhkan luka.

Di Yunani, propolis telah dipakai sebagai komponen dasar dalam parfum yang disebut polyanthus.

Latar Belakang

Selama ini dari begitu banyak khasiat lebah bagi kesehatan manusia.

Yang paling populer, yakni madu dan terapi sengat lebah.

Namun, ada manfaat lainnya dari lebih yang ditengarai mampu menyembuhkan berbagai penyakit, yakni propolis.

Lem lebah adalah suatu zat yang dihasilkan oleh lebah madu.

Zat ini dikumpulkan oleh lebah dari pucuk daun-daun mudah, kemudian dicampur dengan air liurnya digunakan untuk menambal dan mensterilkan sarang.

Propolis bersifat disinfektan atau antibakteri sehingga mampu membunuh semua kuman yang masuk ke sarang lebah.

Sejak puluhan abad yang lalu, propolis telah digunakan sebagai obat oleh masyarakat Yunani, Romawi, dan Mesir Kuno.

Para pendeta di zaman Mesir kuno telah menggunakan propolis dalam ramuan obat-obatan mereka.

Sedangkan di Amerika, propolis juga digunakan oleh bangsa Indian dari suku Inca.

Kini telah banyak penelitian di berbagai negara yang membuktikan bahwa zat ini efektif sebagai obat untuk berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan masuknya bahan kimia berbahaya ke tubuh (keracunan).

Maka, tak heran bila kini kita bisa menjumpai banyak suplemen propolis dengan berbagai merek.

Kata propolis diberikan oleh masyarakat zaman Yunani kuno.

Dalam bahasa Yunani, kata propolis terdiri atas dua kata, yaitu ‘pro’ dan ‘polis’.

Pro memiliki arti pertahanan dan polis berarti kota.

Untuk itu, arti kata propolis adalah pertahanan kota.

Kota yang dimaksud adalah sarang lebah, yakni tempat lebah bekerja dan hidup.

Sarang lebah pun mengalami berbagai serangan dan gangguan yang mengancam kehidupan sang lebah.

Serangan itu bisa berupa bakteri yang menimbulkan penyakit atau binatang-binatang kecil yang berusaha masuk untuk menganggu mereka.

Sama seperti bagi para lebah, propolis digunakan manusia untuk melindungi tubuh manusia dari serangan bakteri, virus dan jamur.

Kecepatan kerja dan keaktifan dari propolis dalam bereaksi menahan serangan kuman merupakan keunggulan dari propolis jika dibandingkan dengan bahan alami serupa lainnya.

Efek perlindungan pun akan segera terasa sesaat setelah mengkonsumsinya.

Manfaat

Berikut beberapa macam khasiat untuk kesehatan diantaranya:

  1. Sebagai antibiotik, antiviral, dan antifungal alami tanpa efek samping.
  2. Mengatasi penyakit yang berhubungan dengan bakteri seperti tifus dan diare.
  3. Bisa mengatasi bau ketiak karena propolis akan mengatasi bakteri atau jamur penyebab bau tak sedap di lipatan ketiak.
  4. Mengatasi penyakit yang berhubungan dengan virus misalnya : demam berdarah, flu, dan TBC.
  5. Mengatasi penyakit yang berhubungan dengan jamur misalnya eksim, panu, keputihan, dan ketombe.
  6. Sebagai antiperadangan (infeksi dan luka) seperti maag, luka luar, radang tenggorok, sakit gigi, radang ginjal, lebam, dan luka bakar.
  7. Sebagai antikanker dan mutagenesi sel seperti kanker tumor, miom, dan kista.
  8. Membersihkan pembuluh darah dan detoksifikasi atau pembuangan racun seperti asam urat, kolesterol, trigliserin, darah tinggi, jantung, stroke, dan diabetes mellitus. (Pri/OL)

Jurnal Penelitian

Propolis memiliki kemampuan antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.

Kualitas dan jenis propolis sesuai dengan komposisi kimia, iklim dan tempat berkembang biak.

Tujuan penelitian ini adalah melihat perbedaan daya hambat bakteri Propolis cair 1 dan Propolis cair 2 yang ada di pasaran terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus secara in vitro.

Propolis yang akan diuji adalah propolis cair yang ada di pasaran dipilih dua secara acak.

Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2013 di laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Fungsi propolis yang paling penting bagi lebah adalah membungkus (memumikan) bangkai binatang yang masuk ke sarang lebah agar tidak menyebarkan penyakit.

Belajar dari efektifitas propolis bagi lebah inilah manusia modern ikut menggunakan propolis dalam pengobatan khususnya untuk menghentikan pertumbuhan dan penyebaran bakteri, virus dan jamur.

Dalam dunia pengobatan, lem lebah (propolis) berkhasiat menurunkan tekanan darah tinggi, memperlancar air seni, antibakteri, membunuh virus influenza, antivirus dan antitumor.

Beberapa komponen propolis seperti flavonoid dan etanol berfungsi sebagai antioksidan serupa dengan vitamin E.

Melihat potensi propolis ini, maka perlu dibuktikan secara ilmiah tentang potensi dan pemanfaatan propolis terutama sebagai antibakteri.

Berdasarkan riset di luar maupun dalam negeri, propolis terbukti ampuh melawan beberapa penyakit berat.

Penelitian telah banyak dilakukan baik secara invivo maupun invitro dan hasilnya menunjukkan bahwa propolis memiliki beberapa aktivitas biologis dan farmakologis antara lain bersifat antibakteri baik terhadap gram positif maupun gram negatif.

Dilaporkan propolis hasil ekstrak etanol 70% dapat digunakan sebagai senyawa antibakteri, baik bakteri gram positif (Staphilococcus aureus dan Bacillus subtilis), maupun bakteri gram negatif (Escherichia coli).

Konsentrasi hambat tumbuh minimum dari ekstrak propolis masing-masing untuk setiap bakteri adalah 0,39% terhadap Staphilococcus aureus, 0,78% terhadap Bacillus subtilis dan 0,78% terhadap E. coli.

Di dalam negeri, penelitian yang dilakukan pada tahun 2005 tentang aktivitas antibakteri flavonoid propolis Trigona sp terhadap bakteri Streptococus mutans penyebab karies gigi menunjukkan adanya kemampuan hambatan terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans.

Resistensi antibiotik yang makin lama makin luas karena adanya pemakaian tidak taat aturan dari masyarakat menjadi salah satu faktor yang mendorong WHO untuk menyarankan pemakaian bahan alam untuk pengobatan yang dikenal juga dengan istilah back to nature.

Untuk hasil penelitian lebih lanjut, kalian bisa mendownload file PDF sebagai berikut: http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/download/373/328

Ekstrak Propolis sebagai Bahan Pulpcapping

Ekstrak Propolis sebagai Bahan Pulpcapping

Perforasi pulpa dapat diakibatkan karena tindakan preparasi kavitas saat pengambilan jaringan karies pada kavitas yang dalam.

Trauma perforasi mekanik ini akibat dari pemakaian bur atau alat kedokteran gigi lainnya.

Apabila pulpa sudah terbuka, maka perawatan yang dilakukan adalah direct pulpcapping.

Tujuan dari pengobatan regenerative jaringan pulpa ini adalah untuk membentuk jaringan normal pada daerah pertemuan antara pulpa dan dentin.

Jaringan ini merupakan jaringan yang meregulasi pembentukan dentin tersier.

Jaringan pulpa terdiri dari sel progenitor yang berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi odontoblas.

Odontoblas dalam Struktur Gigi
Odontoblas dalam Struktur Gigi (sumber: wikipedia.com)

Odontoblas yang rusak dapat diganti oleh sel yang menyerupai odontoblas (odontoblast like cell) yang berasal dari sel fibroblast pulpa.

Differensiasi odontoblas melibatkan beberapa growth factor dan matrik ekstra selular.

Pada tahap ini kolagen tipe 1 dan 3 juga ikut berperan. Kolagen tipe 1 berperan dalam proses differensiasi serta pembentukan struktur komponen dentin.

Kolagen tipe 1 merupakan matriks dentin ekstraselular spesifik yang dihasilkan pada awal pembentukan dentin reparatif.

Kolagen tipe 1 pada sel odontoblas dianggap sebagai marker awal proses pembentukan dentin reparatif.

Bahan yang paling sering digunakan untuk perawatan pulpcapping adalah kalsium hidroksida.

Namun sebagai bahan direct pulp capping memiliki beberapa kelemahan.

Kalsium hidroksida dapat menginduksi peradangan pulpa yang berlangsung hingga 3 bulan, respon jaringan yang tidak dapat diprediksi, dentin reparatif yang terbentuk di bawah kalsium hidroksida tidak teratur, dan kemungkinan terjadinya kerusakan yang berbentuk tunnel defect sehingga memungkinkan terjadinya invasi bakteri.

Pada bidang kedokteran gigi saat ini mulai dikembangkan bahan pulpcapping dari bahan alam salah satunya adalah propolis.

Propolis telah dikenal dijadikan salah satu pengobatan karena memiliki spektrum yang luas dari aktifitas biologic seperti antikarinogenik, anti-oksidan, anti inflamasi,antibiotik, antifungal serta efek anti hepatotoksik.

Caffeic Acid Phenethyl Ester
Caffeic Acid Phenethyl Ester (sumber: wikipedia.com)

Salah satu komponen aktif yang terkandung adalah Caffeic Acid Phenethyl Ester (CAPE).

CAPE telah menunjukan fungsinya yang efektif sebagai anti kanker, anti-inflamasi dan sebagai immunomodulator.

Pada perkembanganya efek CAPE pada jaringan gigi sangat kontroversial.

Beberapa penulis mengungkapkan bahwa CAPE dapat menimbulkan toksisitas di jaringan fibroblast gigi pada 2 mg keatas, sedangkan penulis lain mengindikasikan bahwa CAPE menstimulasi kolagen pada  pulpagigi dan mengurangi inflamasi dan degenerasi pulpa.

Pada penelitian yang lain disebutkan bahwa CAPE sangat efektif dalam menstimulasi kolagen dalam pulpa dan menghambat inflamasi pada pulpa serta degenerasi.

Karakteristik penyembuhan jaringan pulpa yang terbuka meliputi reorganisasi jaringan lunak yang rusak, diferensiasi sub odontoblas menjadi odontoblast-like cells dan adanya pembentukan jembatan dentin reparatif pada jaringan pulpa yang terbuka.

Pada saat jaringan terkena jejas, maka fibroblas akan segera bermigrasi ke arah luka, berproliferasi dan memproduksi matriks kolagen yang akan hard tissue barrier yang mengisolasi iritan dari jaringan pulpa yang tersisa dan memperbaiki jaringan yang rusak.

Untuk hasil jurnal penelitian dan kesimpulannya, bisa kalian unduh disini

Kembangan Propolis sebagai Bahan Hand Sanitizer yang Lebih Aman

Kembangan Propolis sebagai Bahan Hand Sanitizer yang Lebih Aman

Hand sanitizer (cairan pembersih tangan) yang beredar di pasaran umumnya mengandung alkohol, fenol, dan zat kimia yang berbahaya.

Jika hand sanitizer tersebut belum hilang dari telapak tangan dan ikut termakan bersama makanan yang tersentuh tangan seseorang, maka akan menimbulkan efek samping.

Sebagai alternatif, propolis dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat hand sanitizer.

Propolis merupakan zat lilin yang sebenarnya berfungsi sebagai penutup dan pelindung sarang lebah, namun mengandung senyawa flavonoid yang salah satu fungsinya adalah sebagai antibakterial.

Penelitian tentang “Efektivitas Gel Propolis Lebah Sebagai Hand Sanitizer Terhadap Angka Kuman Pada Telapak Tangan”.

Yang dilakukan oleh tim PKMP (Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian) perwakilan dari UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) menunjukkan bahwa, hanya dengan propolis berkadar 0,3% saja,telah mampu menurunkan angka kuman pada telapak tangan.

Hal ini seperti diungkapkan oleh Lilik Eko Pranantyo, Ketua Tim, saat ditemui di sela-sela persiapan presentasi PIMNAS Ke-25 UMY.

Menurut Lilik, propolis mengandung banyak kandungan yang berdampak antibakteri terhadap bakteri gram positif dan negatif.

Yang mengandung senyawa kompleks vitamin, enzim, senyawa fenolik, dan flavonoid yang mampu menghambat pelepasan histamin dengan cara stabilisasi selaput sel lipid.

Di samping itu, terkandung juga komposisi kimia yang lain seperti golongan resin, lilin, minyak esensial, protein dan mineral (Fe, Zn, Au, Ag, Hg),” jelas mahasiswa Pendidikan Dokter angkatan 2008 ini.

Dalam penelitian yang dilakukan di Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK-UMY) dengan waktu penelitian selama 31 Januari-2 Mei 2012 lalu.

Lanjut Lilik, gel propolis lebah yang diujikan dibuat dengan bahan dasar gel berbasis carbopol (bahan dasar gel) dan air.

“Formula yang dibuat kemudian diujikan ke responden sejumlah 120 orang yang dibagi acak menjadi 6 kelompok, yaitu kelompok perlakuan alkohol (control positif I), antis (control positif  II), base gel ( control negative), gel propolis dengan kadar ekstrak 0,3%, 0,9% dan 15%. Masing-masing kelompok terdiri dari 20 orang,” jelasnya.

Sebelum diberi perlakuan, masih menurut Lilik, kepada setiap subyek penelitian dilakukan pretest terlebih dahulu untuk menilai angka normal kuman pada tangan.

“Subyek penelitian diberi perlakuan sesuai kelompoknya kemudian dilakukan posttest untuk mengetahui angka kuman pada tangan setelah diberi perlakuan.

Data angka kuman sebelum dan setelah perlakuan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, Kruskal-Wallis, dan Mann-Whitney.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gel propolis 0,9% dan 15% dapat menurunkan angka kuman pada telapak tangan secara signifikan (p<0,05) serta memiliki kemampuan yang setara dengan alkohol dan antis dalam menurunkan angka kuman pada telapak tangan,” pungkas Lilik.

Referensi: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

B-Protect, Inovasi Pengolahan Propolis Karya Mahasiswa FTP

Inovasi

Propolis adalah sejenis resin yang dikumpulkan lebah dari berbagai tumbuhan yang bercampur dengan saliva dan enzim lebah yang digunakan untuk membangun sarang.

Di dunia kesehatan propolis merupakan suplemen kesehatan herbal yang berguna untuk membantu mengobati dan mengatasi berbagai macam jenis keluhan atau penyakit pada tubuh tanpa menimbulkan efek samping.

Hal ini dikarenakan dalam propolis terkandung bahan aktif diantaranya Flavonoid yang berpotensi sebagai sumber antioksidan berskala tinggi yang diproduksi oleh lebah madu.

Aktivitas antioksidan pada propolis menduduki peringkat pertama dalam kekuatan melawan oksidan dan radikal bebas dibandingkan dengan hasil produk lebah lainnya.

Khasiatnya diataranya untuk penyakit mulut dan tenggorokan, jantung, darah tinggi, mematikan sel kanker, meningkatkan sistem imun, menghilangkan nyeri, antibody, typus dll.

Berdasaran khasiat tersebut, propolis memiliki respon pasar yang sangat baik.

Permintaan pasar terhadap propolis terus meningkat dan mencapai 20% pertahun.

Sayangnya selama ini peternakan lebah madu kebanyakan menjual langsung propolis mereka ke industry pengolahan.

Padahal harga propolis mentah hanya dijual 600.000 per Kg sedangkan harga ekstrak propolis dapat dijual mencapai harga 6 juta per liter.

Penyebabnya tak lain adalah karena proses yang dilakukan tak dapat secanggih di industri, proses yang mereka gunakan masih konvensional yaitu maserasi yang memerlukan waktu proses mencapai 72 jam hingga 1 minggu.

B-Protect, Inovasi Pengolahan Propolis Karya Mahasiswa FTP

B-PROTECT merupakan mesin ekstraksi berbasis ReHeater yaitu mengkolaborasikan teknologi pemanasan resistive heating dengan vakum filter secara otomatis.

Resistive heating merupakan teknologi pemanasan yang memanfaatkan nilai hambatan pada bahan untuk mengahasilkan panas internal.

Teknologi ini memiliki keunggulan diantaranya proses yang lebih cepat yaitu hanya 6 jam bersama preparasi bahan, menggunakan suhu yang terkontrol yaitu 600C sehingga tidak merusak flavonoid yang terekstrak serta mengoptimalkan suhu ekstrak untuk pelarut, meningkatkan hasil ekstraksi produk, memiliki efisiensi energi lebih dari 90%, dan dengan kombinasi menggunakan vakum filter, hasil dari ekstrak bersih dari wax atau pengotornya.

Secara teori, prinsip ekstaksi ReHeater sendiri menggunakan resistive heating untuk proses ekstraksi, dimana pemanasan dilakukan dengan mengalirkan bahan arus listrik secara langsung pada bahan sehingga dapat menghasilkan panas yang berasal dari bahan itu sendiri.

Proses ini berdampak panas dapat merata keseluruh bahan.

Setelah melakukan pengujian hasil, langkah kedepan yang dilakukan oleh tim ini adalah penyempurnaan alat seperti penstabilan system control dan tegangan.

Para mahasiswa ini menyatakan, B.Protect ini dibuat untuk menjadi teknologi tepat guna berbasis ReHeater pada ekstraksi propolis di peternakan lebah madu.

Sehingga kedepannya diharapkan peternak lebah mampu memproduksi propolis secara mandiri.

Referensi: Univeristas Brawijaya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *